Terjebak Cinta di Balik Perisai yang Hilang
Oleh: Husnul Khatimah
Dulu aku berpesan pada angin, siapa yang siap menjaga cinta ?
Namun angin membungkam
Berlari melewati prasangka yang kejam
Tapi, aku belum menyerah disaat keadaan susah karena minim upah
Aku selalu memapah kaki yang patah karena ulah manusia serakah
Yang menjual kekayaan negeri pada ia yang pongah
Terjebak dekadensi iman dan cinta semu pada ia yang berdasi, sungguh mengiris hati
Aduhai, suara rakyat bagai melati yang dicium saat wanginya bak kasturi
setelah beberapa hari terhempas dan mengelupas di depan gedung yang tinggi
Sungguh terjebak cinta yang memabukkan dalam pesta lima tahun sekali sangat tak berarti
kemiskinan dan kelaparan anak negeri tetap menderai tak pernah selesai
Pundi-pundi hadiah hanya penghibur bulanan di tengah bungkamnya suara intelektual
Narasi agama di negeri wakanda bak huru hara
Karena kebebasan dianggap modal utama
Kebebasan untuk berpendapat diperhatikan, khawatir mengancam keutuhan
tak hanya rakyat, angin pun kebingunan tak tahu lagi kemana menyampaikan pesan setelah kepergian
Saat perisai datang
lalu pergi dengan permisi adalah kehilangan yang paling pahit
berawal dari taktik yang digencarkan
Dari pagi hingga petang
Terusirlah perisai bagi manusia yang menjulang
Setelah seratus tahun kepergiannya
Terasa cinta telah sirna, tertelan nestapa
Terpoles bahagia yang berpura-pura
Sebagiannya dianggap biasa saja, padahal ada derita yang terus menganga.
Cinta yang alibi akan terus seperti ini, menutup celah dengan masalah.
Padahal terjebak cinta yang menyalahi fitrah
Karena kita yang lemah tak menjadikan-Nya pengatur segala tingkah. (reper/toriq)


Posting Komentar untuk "Terjebak Cinta di Balik Perisai yang Hilang"