Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Utang Bukan Solusi, Tapi Awal dari Permasalahan


Oleh: Mochamad Efendi


Sungguh indah hidup tanpa beban hutang. Walaupun hidup Serba pas pasan tapi merasa tenang karena tidak dikejar-kejar hutang. Apalagi jika didalamnya ada unsur riba yang jelas keharamannya. Hidup tidak berkah karena melanggar syariah, hukum Allah. Banyak orang hutang bukan karena kebutuhan, tapi untuk mewujudkan keinginan diluar batas kemampuan. Ingin cepat sukses sehingga terpaksa harus hutang agar usahanya cepat besar. Usaha besar tapi hasilnya hanya untuk bayar hutang bank, Lalu untuk apa jika hidup tidak tenang dan berkah karena riba.


Memiliki mobil dan rumah mewah untuk apa jika hidup terbelit hutang. Kalau tidak mampu beli mobil beli sepeda motor saja, itupun kalau memang diperlukan. Kalau gk mampu beli motor baru mending beli motor bekas tapi masih bisa dipakai sehingga tidak perlu hutang. Tidak usah gaya-gayaan Kalau menuruti keinginan pasti tidak akan ada batasnya, dan puasnya sehingga ini yang membuat seseorang berhutang. 


Oleh karena Itu hidup biasa saja tapi terbebas hutang. Tidak perlu punya barang mewah tapi tidak dipakai, hanya untuk pansos. Gaya hidup yang hanya ingin dilihat orang, memamerkan kekayaan harus dibuang jauh, karena semua itu tidak memberikan kebahagiaan hakiki. Untuk apa terlihat mentereng didepan orang, faktanya miskin hati, tidak mampu mensyukuri nikmat Allah yang begitu banyak dan melimpah.  


Bahkan yang lebih parah lagi gaji sudah tergadaikan untuk banyar hutang, sehingga gali lobang tutup lobang. Terlihat hidup mewah tapi sebenarnya menderita dalam kemiskinan. Rumah mentereng, tapi masih nyicil, dan terancam disita karena tidak mampu bayar bunganya. Belum lagi kendaraanya juga kredit sehingga hidup tersiksa, tapi terlihat mapan di tengah masyarakat. Tuntutan gaya hidup mewah membuat seseorang terjerumus ke lubang penderitaan karena hutang bertumpuk. Terkadang harga diri tergadaikan karena tidak mampu untuk membayar hutang.


Hutang bukan solusi, tapi hanya menambah masalah. Karena tidak sabar, berhutang dianggap cara cepat untuk menyelesaikan masalah ekonomi. Ternyata, hutang membuat kita semakin terpuruk tidak berdaya. Gaji atau penghasilan tidak hanya untuk kebutuhan sehari-hari tapi juga untuk bayar hutang terlebih jika berbunga. Tidak hanya beban di dunia, merasa tidak tenang karena dikejar hutang, tapi juga dosa besar riba bisa membawa kita pada penyesalan sia-sia jika tidak segera bertaubat. Padahal, hidup di dunia tidaklah lama dan pasti akan berakhir,  dan tentunya harus kita syukuri dan akan terasa indah jika tanpa hutang. Bebas dari hutang lebih menyenangkan, terasa menjadi orang kaya meskipun tidak hidup mewah. Gak usah iri dengan orang lain yang terlihat memiliki segalanya. Belum tentu mereka hidup bahagia, apalagi jika semua yang dimiliki hasil dari hutang yang tidak membuat mereka tenang.


Lebih baik bersyukur atas apa yang kita punya. Sebenarnya kebutuhan manusia terbatas. Meskipun banyak tersedia hidangan di meja makan, tidak semua bisa masuk ke perut kita. Bahkan, mubazir jika akhirnya harus dibuang karena perut sudah tidak mampu untuk menampungnya. Makanya, jangan turuti semua keinginan jika pada akhirnya tidak kita perlukan karena semua itu bukan yang kita butuhkan . Begitu juga keinginan yang lain yang sering harus berhutang untuk mewujudkannya. Kalau memang tidak mampu beli, berpuasa dulu tidak usah hutang sana-sini hanya untuk menuruti nafsu memiliki sesuatu. Baju, sepatu, bahkan  semua yang bukan kebutuhan dibeli, sehingga pengeluaran lebih besar daripada pemasukan, sehingga terpaksa berhutang. Sungguh bodoh, menuruti keinginan dan hawa nafsu sehingga akhirnya terbelit hutang yang merampas kemerdekaan dan awal dari penderitaan.


Bahkan satu negara tidak berdaya karena terbelit hutang. Negera kaya raya dengan sumber daya alam yang melimpah tapi rakyat hidup dalam kemiskinan karena hutang sudah menjeratnya. Kekayaan alam yang harusnya untuk menjamin kebutuhan dasar rakyat, harus digunakan untuk membayar hutang dan bunganya. Negeri yang kaya raya, tapi rakyat tidak sejahtera karena riba yang merupakan dosa besar dihalalkan. Pintu keberkahan tertutup sebaliknya bencana datang bertubi-tubi. Bukankah ini peringatan yang datang pada kita agar kita mau diatur dengan hukum Allah. Jika ingin hidup tenang, bahagia dan berkah, ikuti petunjuk Allah SWT. Jangan mengikuti hawa nafsu, sehingga harus melanggar aturanNya. (reper/baim)

Posting Komentar untuk "Utang Bukan Solusi, Tapi Awal dari Permasalahan"