Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjadi Remaja Cerdas dan Beriman dengan Menuntut Ilmu


Oleh: Ananda Risty


Minat menuntut ilmu di kalangan remaja saat ini, baik dalam bentuk menghadiri majelis ilmu atau membaca buku yang berisi berbagai pengetahuan masih belum membudaya. Kalaupun ada yang suka membaca, yang lebih disukai adalah buku-buku bacaan yang sifatnya hiburan, misalnya majalah gosip, komik, novel atau cerpen cinta picisan, dll. Padahal buku-buku yang penuh dengan ilmu pengetahuan baik Islami maupun umum saat ini bertebaran dimana-mana. Terlebih lagi di era modern yang sudah semakin canggih, yang seharusnya lebih memudahkan kita untuk menambah ilmu pengetahuan baik Islami maupun umum, akan tetapi pengetahuan tsb tak dapat tercipta apabila kurangnya minat untuk merealisasikannya. Akibatnya muncul kebodohan di tengah-tengah masyarakat.


Hal tersebut menjadi salah satu penyebab tidak munculnya di tengah-tengah umat pakar ilmu pengetahuan yang arif, pemimpin yang ikhlas, para Mujtahid, ahli tafsir, ahli teknik yang mendalami berbagai macam ilmu pengetahuan dan teknologi.

Karena menuntut ilmu adalah usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang untuk merubah keadaan dari yang tidak tahu menjadi tahu. Remaja muslim harusnya lebih tergerak untuk mau lebih mendalami berbagai ilmu pengetahuan, karena Islam sangat menjunjung tinggi ilmu dan sangat menghormati orang-orang yang berilmu, seperti dalil-dalil yang ada pada Al-Qur'an dan As-sunah:


"Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim" (HR.Ibnu Adi dan Baihaqi dari Abbas R.A). "Allah melebihkan orang-orang yang berilmu beberapa derajat" (Q.S Al-Mujadilah (58):11);2) "Tidak sama orang yang tahu dengan yang tidak tahu" (Q.S Az-Zumar) (39:9) Rasulullah Saw juga pernah bersabda: "Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan jalan baginya menuju Surga". (HR. Muslim dan Tirmidzi dari Abu Hurairah RA).


Selain itu ilmu juga terbagi menjadi 2, yaitu:


1) Pengetahuan/Tsaqofah: ilmu yang dipengaruhi oleh aqidah tertentu, di bagi 2 yaitu:


a. Ilmu/Tsaqofah Islam; dipengaruhi oleh aqidah Islam. Contoh: ilmu Fiqih, Hadist, B.Arab, dll. Hukum mempelajarinya adalah fardhu 'ain (wajib bagi tiap individu/tdk bisa diwakilkan)


b. Ilmu/Tsaqofah Asing; dipengaruhi oleh aqidah selain Islam. Contoh: ilmu ekonomi ribawi yg dipengaruhi oleh sistem ekonomi kapitalis-liberal, teori-teori ilmu pengetahuan yang dipengaruhi oleh atheism dalam aqidah sosialis seperti teori Darwin yang mengatakan bahwa manusia berasal dari kera (meniadakan keberadaan pencipta), HAM, Demokrasi, dll. Hukum mempelajarinya adalah boleh (dgn catatan bahwa seorang Muslim sudah matang dalam ilmu-ilmu Islam).


2) Sains/Teknologi: yaitu ilmu yang tidak dipengaruhi oleh aqidah apapun. Biasanya lahir dari eksperimen-eksperimen ilmiah. Contoh: matematika, fisika, kimia, dll. Hukum mempelajarinya fardhu kifayah (kewajiban kepada seluruh muslim, tapi jika sudah ada segolongan kaum Muslim yang menguasainya, maka gugurlah kewajiban bagi yg lain). Termasuk dalam kategori fardhu kifayah adalah ilmu bahasa yang penting juga dipelajari oleh umat Muslim untuk guna menunjang dakwah Islam ke berbagai belahan dunia.


Penting pula diketahui bahwa dalam kondisi dunia saat ini, dimana aqidah kapitalis/sekularis yang memimpin, ilmu-ilmu Sains ternyata juga tidak terlepas dari pengaruh asing. Misal dalam teori energi dalam ilmu fisika yang menyatakan bahwa 'energi tidak dapat dimusnahkan'. Hal ini bertentangan dengan aqidah seorang Muslim bahwa segala sesuatu, termasuk energi sekalipun, pasti ada penciptanya. Dalam hal ini tiada pencipta selain Allah SWT. Sehingga dalam mengambil teori-teori dari barat, kaum Muslim harus selektif. (reper/baim)

Posting Komentar untuk "Menjadi Remaja Cerdas dan Beriman dengan Menuntut Ilmu"