Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Glorifikasi Bikin Emosi

Oleh: Neng Ranie SN


Sobat Remaja, ada yang tahu apa itu glorifikasi? Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, glorifikasi adalah proses, cara, perbuatan meluhurkan, dan memuliakan, sehingga terkesan luar biasa dan sempurna. Biasanya glorifikasi ini ditujukan untuk orang-orang yang sudah mengharumkan nama bangsa. Semisal : atlet yang menang kejuaraan tingkat dunia, anak bangsa yang menang dalam perlombaan olimpiade, dan lain sebagainya. 


Eh, tapi ternyata ada glorifikasi menyambut kebebasan eks napi, loh. Kok bisa yah? Nah, inilah glorifikasi yang bikin emosi. Di mana ada seorang publik figur berinisial SJ disambut dengan gegap gempita begitu keluar dari LP Cipinang. Pengalungan bunga dan sorak-sorai para penggemar menyambutnya, bak pahlawan yang telah mengharumkan nama bangsa. Ckckck.


Padahal ya sob, SJ ini seorang  penyanyi dangdut yang tersandung kasus asusila terhadap anak di bawah umur dan penyuapan yang menjeratnya. Bisa-bisanya ya, eks napi disambut dengan suka cita, apalagi ini eks napi pedofilia? Gak abis pikir deh. 


Hebatnya lagi, eks napi pedofilia ini langsung wara-wiri menghiasi layar kaca. Begitu pun para youtuber mengundangnya sebagai bintang tamu, guna menceritakan kisahnya yang selama lima tahun mendekam di tahanan. Bahkan beberapa job  di industri hiburan sudah menantinya. Kejahatannya keji, tapi pelakunya dianggap pahlawan sehingga tetap diidolakan. Sungguh lucunya negeri ini.


Tentu saja, glorifikasi SJ ini menuai kecaman dari berbagai kalangan. Di antaranya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI),  Retno Listyarti mengatakan, munculnya wajah eks narapidana kasus pedofilia SJ di media akan menimbulkan trauma bagi korban dan korban-korban kekerasan seksual lainnya, semakin takut terbuka atau bicara atas apa yang dialaminya. Selain itu, pelaku bisa merasa tidak bersalah atas perbuatannya. Ini sangat berbahaya, sebab membuat masyarakat "memaklumi" pelaku kekerasan seksual dan tidak memberikan empati kepada korban. (suara.com, 5/09/21)


Tak ketinggalan, the power of nitizen pun bereaksi keras. Mereka geram melihat tingkah polah SJ yang terlihat santuy, tanpa ada rasa malu. Pun media elektronik yang sudah memberinya panggung. Petisi “BOIKOT SAIPUL JAMIL MANTAN NARAPIDANA PEDOFILIA, TAMPIL DI TELEVISI NASIONAL DAN YOUTUBE” dirilis di laman Change.org. Hingga Rabu, 8 September 2021 pukul 15.45, petisi sudah meraih 506.746 tanda tangan. (m.medcom.id, 8/09/21)


By the way, glorifikasi SJ ini menandakan adanya pergeseran nilai di tengah masyarakat.  Penyebabnya tak lain sistem kehidupan di negeri ini, yakni sistem demokrasi kapitalis. Di negeri penganut kapitalisme, meski seorang eks napi sekalipun akan tetap diberi apresiasi dan ruang untuk eksistensi diri selama darinya bakalan ada cuan yang didapat. Bahkan pernah ada pelaku video mesum yang diwawancarai secara eksklusif oleh salah satu stasiun televisi. Begitulah watak sistem kapitalisme, tak kenal halal-haram, terpenting cuan dan cuan.


Karenanya wajar, meski negeri ini berpenduduk mayoritas muslim, tetapi aturan agama tidak menjadi pegangan. Sebaliknya, kebebasan individu malah diagung-agungkan dan nilai materi sebagai standar baku dalam bertingkah laku. Alhasil, degradasi moral hingga kecenderungan penyimpangan seksual di negeri ini, seakan tak pernah henti kasusnya. Ditambah, eksistensi penyuka sesama jenis dilindungi dengan payung hukum hak asasi manusia.


Nilai-nilai di dalam sistem kapitalisme sangat kontradiktif dengan sistem Islam, sob. Tak ada istilah kebebasan sekehendak hati, semuanya diatur dengan syariat Islam yang paripurna. Jika ada pelanggaran, sistem Islam memiliki seperangkat sanksi yang dapat memberi efek jera serta berfungsi sebagai penebus dosa (jawabir) bagi pelakunya. Tak ada glorifikasi bagi pelaku kejahatan, apalagi pada pelaku pedofilia. Hukum Islam akan menindak tegas dengan memberi hukuman mati.


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, para sahabat telah sepakat (berijma’) bahwa pelaku liwath harus dibunuh/ hukuman mati. Namun, jika yang dilakukan adalah pelecehan seksual (at taharusy al jinsi), tidak sampai pada perbuatan zina atau homoseksual, hukumannya ta’zir. Yakni kadar dan jenis sanksinya ditentukan oleh khalifah, tergantung tingkat kejahatannya.


Metode preventif sistem Islam akan menciptakan positive vibes, yakni kehidupan yang islami dan diselimuti ketaatan kepada Allah Swt. Sehingga tiap individu terbentuk kepribadian Islam,  jauh dari perilaku yang memancing bangkitnya syahwat dan penyimpangan perilaku di tengah masyarakat. Sistem Islam akan menutup semua celah yang berbau pornografi dan porno aksi, serta akan menerapkan sistem pergaulan Islam di tengah masyarakat.


So, saatnya umat tersadar akan kerusakan yang ditimbulkan oleh sistem kehidupan (kapitalis liberal) di negeri ini. Menghempaskannya dan menggantinya dengan sistem sahih, yakni sistem khilāfah Islamiyyah ‘Alā Minhāji An-nubuwwah. Hanya institusi khilafah Islamiyyah dengan penerapan hukum Islam secara kaffah (menyeluruh), yang mampu  melindungi generasi dan menciptakan kehidupan manusia yang mulia. Wallahu a’lam bish-shawabi. (reper/az)

 

Posting Komentar untuk "Glorifikasi Bikin Emosi"