Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Nasib Generasi di Tengah Pandemi

Oleh: Ninda Mardiyanti YH


Nyaris 2 tahun hidup berdampingan bersama pandemi, nampaknya permasalahan bukan hanya di bidang ekonomi, nasib generasi pun terancam di tengah pandemi. Sebanyak 602.208 mahasiswa yang putus kuliah, angka ini menaik tajam menjadi 50 persen dari 18 persen. (JawaPos.com, 16/08/2021).


Nampaknya imbas dari pandemi tidak hanya dirasakan oleh kepala keluarga, atau pun para pekerja. Imbas dari pandemi bahkan merembet dirasakan oleh para mahasiswa. Mereka putus kuliah sebab faktor ekonomi yang menjadi alasan utamanya, karena mereka para mahasiswa tidak bisa membayar uang kuliah. Ada banyak keluhan dari para mahasiswa dimana mereka tidak menikmati sarana dan prasarana yang ada di kampus, pembelajaran secara online/daring, sementara biaya kuliah harus full. Apalagi jika berada di kampus swasta yang terkenal dengan mahalnya biaya kuliah. 


Mahasiswa sangat terkenal dengan intelektual yang tinggi. Bahkan masyarakat sangat mempercayakan kepada mahasiswa bahwa di tangan mahasiswa mampu menjadi pendobrak perubahan negeri. Sayangnya di tengah pandemi ini mereka terancam kehilangan potensi intelektualnya. Daya kritis dari mahasiswa akan sirna dengan fokusnya mereka bekerja membantu mencari uang demi memenuhi kebutuhan diri dan keluarga. 


Untuk mencegah putusnya mahasiswa dari kuliah, pemerintah telah memberikan beasiswa bagi yang membutuhkan. Walaupun demikian mereka harus menyelesaikan yang menjadi syarat dan ketentuan untuk mendapatkan beasiswa tersebut, dan itu pun melalui proses yang sangat ribet dan panjang. 


Itulah wajah demokrasi yang selalu melihat untung dan rugi. Disini sangatlah jelas bahwa demokrasi telah gagal dalam menangani hal ini. Utamanya menangani pandemi yang sampai hari ini belum juga sirna dari kehidupan ini, justru terus mengancam berbagai lini termasuk pendidikan generasi. Padahal pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk didapatkan oleh setiap generasi, supaya akal mereka terus terasah dan lebih kritis dalam menanggapi segala sesuatu. Juga penerus estafet kepemimpinan negeri dan peradaban manusia.


Lain halnya dengan Islam. Islam sangat memperhatikan pendidikan generasi. Bahkan negara menjamin setiap anak untuk mendapatkan pendidikan secara gratis seperti halnya sandang, pangan, dan papan. Walaupun di tengah pandemi tapi negara akan memberikan jaminan sarana dan prasarana untuk menunjang pembelajaran supaya berjalan dengan baik. Sebab Islam melihat potensi yang ada pada generasi sangatlah tinggi, terutama mahasiswa yang akalnya sudah mampu diajak berpikir kritis.


Sistem pendidikan Islam dengan kurikulum berbasis akidah Islam akan mendorong generasi menjadi pendobrak peradaban seperti halnya Muhammad Al-Fatih. Muhammad Al-Fatih mampu menyusun strategi perang karena memiliki intelektual yang tinggi sehingga ditanganya berhasil menaklukan kota Konstantinopel. Begitupun saat ini, dengan visi yang sama Islam menginginkan ada penerus Muhammad Al-Fatih dengan intelektualnya mampu menebus dan menaklukan kota Roma. Wallahu a’lam bi shawab. (reper/az)

 

Posting Komentar untuk "Nasib Generasi di Tengah Pandemi "