Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menyelami Keindahan Dunia Fiksi


 Oleh: MEI


Saat membaca sebuah buku, tema seperti apa yang paling kamu sukai? Pernah tetarik dengan cerita anti mainstream? Kali ini saya akan membahas genre yang tengah hit di kalangan remaja pecinta fiksi, bertemakan 'time-travel' atau perjalanan menjelajah waktu. Sangat menarik. 


Time-travel telah menjadi tema yang sangat memikat dan memiliki jutaan penggemar di seluruh dunia. Time-travel menceritakan tentang seseorang yang memiliki perjalanan waktu ke masa lalu, masa depan, atau ke dunia paralel. Dimana cerita yang disuguhkan hanya sekedar hasil imajinasi penulis yang berusaha menghadirkan hal-hal yang mustahil ada di kehidupan nyata. 


Singkatnya, seseorang diberikan kesempatan kedua untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya tak pernah dilakukannya atau bisa juga kesempatan itu digunakan untuk memperbaiki waktu-waktu yang dirasa tidak menguntungkan di kehidupan sebelumnya. Fiksi tersebut meransang daya imajiner pembaca untuk memunculkan gagasan bahwa dunia fantasi lebih indah dibandingkan dengan kehidupan nyata, karena takdir bisa di revisi dan bencana bisa dihindarkan.


Lebih dari itu, orang-orang yang sudah terjebak pada dunia itu seakan enggan untuk berpisah, seolah ada magnet yang mengikat para pembaca untuk terus menjelajahi dunia imajiner sehingga menyebabkan prilaku anti sosial yang cukup memprihatinkan. Hal ini bisa dilihat dari prilaku mereka yang selalu jengah dengan kehidupan nyata dan melarikan diri pada dunia fiksi.


Apalagi penyuka tema ini membenarkan konsep reinkarnasi, dimana seseorang yang telah mati dapat dibangkitkan kembali sebagai orang atau benda dikehidupan yang lain. Sehingga menyangkal adanya kehidupan akhirat yang kekal abadi. Orang-orang seperti ini akan menganggap bahwasanya kehidupan hanya sekedar lalu tanpa tau apa tujuan hidupnya. Hidup tidak memiliki makna yang berarti karena setelah kematian manusia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupan selanjutnya dengan panduan ingatan kehidupan sebelumnya. Pemikiran-pemikiran seperti ini sangat berbahaya, apalagi kalau terjangkit pada diri kaum muslimin.


Ditambah dengan merosotnya pemikiran kaum muslimin setelah runtuhnya daulah membuat kaum muslimin tidak lagi mengenal agamanya dengan baik. Agamanya hanya dijadikan sebagai ibadah ritual saja, tidak sebagai peraturan hidup. Maka jadilah saat melakukan sesuatu kita tak terarah dan mengandalkan akal semata yang hanya mementingkan kepuasan diri. Sehingga tak jarang saat memilih bacaan pun kadang kita sebenarnya sudah tersesat terlalu jauh.


Pada dasarnya hukum membaca adalah mubah (boleh), dan bisa berpotensi pahala atau dosa tergantung dari buku apa yang kita baca. Membaca cerita-cerita bergenre fiksi tentu saja diperbolehkan selama cerita tersebut tidak mempengaruhi pola pikir, artinya apa yang disuguhkan dalam buku adalah tidak mengandung suatu pemahaman yang bisa menyesatkan umat. 


Akan tetapi, pada faktanya buku dengan tema sejenis ini sangat menyebabkan kecanduan dan berujung pada melalaikan aktivitas yang wajib. Belum lagi di dalam buku terdapat kilasan-kilasan cerita yang menggambarkan ikhtilat, zina, dendam, pembunuhan demi memperebutkan kekuasaan, dan lain-lain yang tentunya sangat berbahaya dan bisa menjadikan hukum membaca tersebut kepada haram.


Membaca tentu habit yang baik, tapi alangkah bagusnya saat kita bisa menyisihkan waktu kita untuk membaca buku-buku yang akan mendekatkan kita kepada Allah, memperkuat tsaqafah Islam, dan membuat kita lebih bersemangat dalam mendakwahkan Islam. Itu seribu kali jauh lebih baik dan bermanfaat. Karena sejatinya, buku mengandung referensi-referensi yang akan sangat berpengaruh pada pola pikir, dan pola pikir akan menentukan prilaku kita. Jadi kalau kita hanya menghabiskan waktu dengan membaca genre fiksi maka kita akan terbentuk menjadi generasi yang halu dan memalukan. So, isilah waktumu dengan membaca yang bermanfaat dan pilih bacaanmu dengan cermat! Wallahua'lam. (reper/baim)

Posting Komentar untuk "Menyelami Keindahan Dunia Fiksi"