Naluri Harus Dikendalikan Agar Mengantarkan Pada Tujuan Yang Benar
Oleh: Mochamad Efendi
Siapa yang tidak suka dipuji? Setiap orang pasti suka dan tidak ada satupun yang suka direndahkan atau dihina. Itulah naluri yang ada dalam diri manusia. Tapi jangalah naluri dijadikan dasar untuk melakukan sesuatu. Naluri bagaikan kuda liar yang harus dikendalikan agar bisa mengantarkan kita pada tujuan yang benar. Kebencian sering membuat kita berbuat tidak adil. Dan itupun naluri yang jangan terus diikuti tapi harus dikendalikan agar hidup kita mulia, tidak terhina karena menuruti hawa nafsu manusia yang membawa pada kesesatan.
Dalam diri manusia ada naluri, yang merupakan potensi dan daya dorong untuk berbuat sesuatu. Jika naluri dikendalikan dan diatur dengan Islam akan mengantarkan pada kemuliaan. Sebaliknya, naluri yang dibiarkan liar akan bisa membawa pada kesesatan dan kehinaan. Jangan sampai kita menyesal karena membiarkan naluri mengusai diri, sehingga nafsu menjadi panglima dalam diri yang akan membawa kita pada perbuatan dosa. Tidak disadari, syaitan telah menguasai diri kita untuk mengikuti langkah-langhahnya menuju pada kesesatan yang nyata. Padahal kita tahu bahwa syaitan adalah musuh sejati manusia, namun tidak jarang kita mengikuti bujukannya, karena naluri dijadikan landasan dalam bertingkah laku.
Mencintai lawan jenis adalah naluri yang ada pada diri seorang insan. Jika dibiarkan liar akan membawa pada kerusakan, dosa besar. Naluri jangan dijadikan landasan untuk melakukan dosa besar, zina, yang akan berujung pada penyesalan. Tidak jarang mereka melakukan tindak kriminal karena membiarkan naluri mengembara tidak terkendali. Pasangan sejoli yang dikendalikan naluri tidak siap menanggung aib akibat dari perbuatan mereka sendiri. Mereka tega membunuh buah hatinya sendiri, bahkan sebelum dia dilahirkan ke dunia karena tergelincir oleh bisikan syaitan yang menyesatkan. Aborsi marak terjadi akibat dari naluri yang dibiarkan menguasai diri yang berbuat tanpa kendali.. Manusia akhirnya terjerumus pada sejauh-jauh kesesatan dan penyimpangan hanya karena membiarkan naluri liar tidak terkendali
Naluri Baqo' mempertahankan diri, ingin diakui dan dihargai bersemayam dalam diri seseorang. Naluri ini akan menjadi daya dorong untuk melakukan kebaikan jika dilandasi dengan ajaran Islam dan niat yang lurus untuk mencari ridho Allah. Namun, jika naluri dijadikan landasan atau tujuan dalam beramal kebaikan akan memunculkan riya' yang akan membakar amalan kita, sehingga semua menjadi sia-sia, tidak bernilai apa-apa. Padahal sekecil apapun kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan terbalas dengan kebaikan tidak hanya satu bahkan berlipat ganda oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Yakinlah, lakukan semuanya untuk mencari ridho Allah sehingga setiap amal kebaikan bisa bernilai ibadah yang akan mengantarkan kita pada sebaik-baik tempat kembali, surgaNya.
Begitu pula naluri tadayun, jika tidak diatur dengan Islam, akan membawa pada kesesatan. Aliran yang mentaqdiskan sesuatu selain Allah SWT. dilakukan oleh mereka yang menjadikan nalurinya menjadi panglima untuk mengatur hidupnya. Kita butuh petunjukNya, untuk mengatur naluri tadayun kita agar sesuai dengan ajaran yang lurus dan mulia, Islam. Mereka yang membiarkan naluri tadayun dibiarkan dan tidak diatur dengan Islam akan mengembara liar menuju kesesatan. Mereka menyembah pohon, matahari dan makhluk hasil imajinasi manusia yang mereka sebut dewa-dewa. Mereka menyembah sesuatu yang salah dan tentunya tidak akan mengantarkan ke surgaNya, bahkan membawa mereka pada sejauh-jauh kesesatan.
Memang naluri adalah potensi agar kita bergerak dan berbuat, tapi jangan biarkan naluri sebagai landasan berfikir dan berperilaku. Atur hidup hidup ini dengan Islam agar selamat dunia dan akhirat. Tanpa petunjuk dari Al-Khalik yang telah menciptakan manusia, alam semesta dan hidup ini, kita bisa tersesat, tidak tahu arah. Bisa jadi apa yang kita suka dan anggap baik, ternyata sesuatu yang buruk bagi kita. Sebaliknya, apa yang kita benci dan kita anggap buruk ternyata baik bagi kita. Itulah pentingnya agama, dan tentunya harus berasal dari Yang Maha Benar dan Yang Menciptakan manusia. Agama sebagai peta jalan hidup yang akan mengatur naluri agar menjadi potensi untuk berbuat yang benar sesuai dengan petunjukNya, sehingga kita bisa selamat tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat nanti dan layak mendapatkan SurgaNya.
Ujian keikhlasan saat perbuatan tidak sesuai dengan hati dan keinginan diri. Semua harus dilakukan sesuai dengan kebenaran hakiki dari Wahyu Illahi. Bukan ridho manusia, tapi semata karena mencari ridho Allah harusnya satu amalan dilakukan sehingga sekecil apapun kebaikan tidak ada yang sia-sia. Allah menciptakan segala sesuatu tidak ada yang sia-sia termasuk juga potensi diri, ghorizah, atau naluri yang ada dalam diri manusia. Namun, semua harus diatur dengan Islam agar membawa seseorang pada kemuliaan, bukan kehinaan dan penyesalan. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Naluri Harus Dikendalikan Agar Mengantarkan Pada Tujuan Yang Benar"