Cinta Kita Memang Beda
Oleh: Al Azizy Revolusi (Founder @koreapi.1453)
Cinta itu anugerah. Harus disyukuri, bukan dihindari. Sehebat apapun manusia, nggak bisa menghindar dari rasa ingin dicintai dan mencintai. Sebab sudah fitrahnya, bagian dari naluri melestarikan jenis.
Hanya aja, perlu diingat bahwa cinta bisa jadi berkah atau berbuah masalah. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Cinta yang dibalut dengan hukum syara’ akan bernilai berkah. Sebaliknya, cinta yang diekspresikan dengan aturan hukum selain Islam seperti pacaran, cuma jadi sumber masalah. Gaya hidup sekuler kapitalis telah berhasil menggiring remaja mempersempit makna cinta. Ketika cinta diobrolin, pasti gak jauh-jauh dari soal pacar, gebetan atau seluk beluk kasmaran.
Padahal Allah subhanahu wa ta'ala menciptakan rasa cinta nggak cuma dalam rangka memadu kasih dua insan yang lagi mabuk asmara. Tapi juga bisa berupa cinta orang tua kepada anaknya, kakak kepada adiknya dan pastinya suami kepada istrinya.
Kalau bukan karena cinta, nggak mungkin seorang bapak bekerja banting tulang untuk menghidupi keluarganya. Kepala pening pantat pegel penghasilan pas-pasan. Rela jadi tukang becak atau jadi pemulung tanpa malu asalkan dapat fulus dengan jalan halal supaya bisa menyambung hidup keluarganya. Bahkan nggak sedikit yang saking cinta pada keluarganya, menghalalkan segala cara agar anak istrinya tetap bisa makan atau malah hidup dalam kemewahan. Huuu... Yang kedua mah kebangetan.
Demikian pula ibu kita yang cintanya nggak mengenal kadaluwarsa. Selalu on walau anak sudah berkeluarga. Coba deh perhatiin ibu hamil, selama 9 bulan dia rela bersusah payah mengandung anaknya. Seperti itulah ibu saat mengandung kita. Habis gitu harus menyusui pula sampai 2 tahun. Mengganti popok kalau pas kita ngompol atau menyuapi ketika makan. Bayangkan kalau ortu nggak cinta sama kita, mungkin begitu lahir kita dibungkus tas kresek, dimasukkan tong sampah atau dibuang di selokan. Iihhh... Na’udzubillahi mindzalik.
Cinta kepada manusia selain keluarga juga bisa bermakna kasih sayang terhadap saudara seakidah yang disetarakan dengan keimanan. Seperti ditegaskan dalam hadis Bukhari-Muslim, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda,
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Muttafaq Alaih)
Jadi, seorang muslim kudu peduli kondisi muslim Palestina yang terus dizalimi bangsa kera Yahudi. Nggak adem ayem aja ketika saudaranya ditimpa bencana.
Cinta, bagi remaja muslim yang shalih shalihah bin unyu-unyu memang beda. Nggak sempit seperti pemahaman orang sekuler kapitalis yang menuhankan hawa nafsu. Yang bikin beda, cinta pada lawan jenis dalam hubungan keluarga dan cinta terhadap saudara seakidah, semuanya dibalut dalam ikatan cinta Allah dan Rasul-Nya, sehingga tetap terjaga kemuliaannya, baik rasa cintanya maupun pengidapnya. In syaa Allah. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Cinta Kita Memang Beda"