Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Salahkah Bila Aku Jatuh Cinta?


 Oleh: Thya Rahman (Muslimah Papua Barat)


Februari identik dengan bulan penuh cinta, momen ini dijadikan oleh para pemuda/pemudi untuk membuktikan cinta kepada pasangannya. Siapa sih yang tidak kenal dengan yang namanya cinta? Atau tidak pernah merasakan jatuh cinta? Tentu semua mahluk hidup pernah merasakan jatuh cinta karena memang ketika Allah menciptakan manusia, Allah memberikan kita Gharizah (Naluri) atau tepatnya Gharizah Nau (Naluri berkasih sayang) dalam tiap-tiap diri manusia. 


Karena naluri berkasih sayang merupakan naluri yang diberikan oleh Allah maka sudah tentu jatuh cinta bukanlah sesuatu yang salah, namun yang harus dipahami adalah bagaimana cara kita merealisasikan cinta tersebut. Ketika Allah memberikan naluri maka Allah pun memberikan solusi untuk pemenuhan naluri tersebut.


Ketika kita jatuh cinta maka Islam memberikan dua solusi yaitu, Pertama : Menikah. Rasulullah memberikan solusi untuk yang sedang jatuh cinta adalah dengan menikah seperti yang Rasulullah sabdakan “Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang jatuh cinta selain menikah.” (HR. Ibnu Hajah). 


Solusi terbaik bagi dua orang yang saling mencintai adalah dengan segera menikah karena dengan menikah, mereka akan terhindar dari perbuatan maksiat. Namun itu dilakukan jika  mampu. Dan jika belum mampu, maka  ada solusi yang Kedua, yaitu : Berpuasalah. “Barang siapa belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran perbuatan zina.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Nah ada beberapa hal tips yang bisa dilakukan oleh sobat muda agar sobat muda bisa mengontrol perasaan cinta:


1. Interaksi


Naluri berkasih sayang ini muncul ketika ada rangsangan dari luar. Naluri ini berbeda dengan kebutuhan jasmani layaknya kebutuhan akan makan yang muncul keinginannya dari dalam diri. Namun, naluri ini akan muncul ketika ada rangsangan dari luar. Rangsangan seperti apa? Yaitu Interaksi dengan lawan jenis. Nah, ketika interaksi yang dilakukan semakin intens atau sering maka rangsangan itu akan muncul dan bisa menimbulkan rasa cinta. 


Maka, dalam islam hukum asal laki-laki dan wanita di dalam kehidupan adalah terpisah.  Ketentuan di atas tidak boleh dipahami bahwa Islam melarang pertemuan dan interaksi laki-laki dan wanita secara total. Sebabnya, Islam tidak melarang laki-laki dan wanita melakukan aktivitas di luar rumah seperti bermuamalah, berdakwah, mengikuti taklim, dan lain sebagainya.  Nah, interaksi yang dimaksud adalah interaksi yang terlalu berlebihan dalam membahas hal-hal yang diluar aktivitas diatas, jadi untuk menghindari perasaan cinta itu maka jaga interaksi antara pria dan wanita


2. Menjaga lingkungan pergaulan


Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :


مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة


“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628).


Bergaul bersama dengan teman yang shalih akan mendatangkan banyak kebaikan, seperti penjual minyak wangi yang akan memberikan manfaat dengan bau harum minyak wangi. Bisa jadi dengan diberi hadiah olehnya, atau membeli darinya, atau minimal dengan duduk bersanding dengannya , engkau akan mendapat ketenangan dari bau harum minyak wangi tersebut.


Kebaikan yang akan diperoleh seorang hamba yang berteman dengan orang yang shalih lebih banyak dan lebih utama daripada harumnya aroma minyak wangi. Ketika berteman dengan teman yang sholih maka dia akan mengajarkan kepadamu hal-hal yang bermanfaat, tidak mengajakmu pada hal-hal kemaksiatan,  akan memberimu nasihat jika kamu sudah mulai futur. Dia juga senantiasa memotivasi dirimu untuk mentaati Allah. Dia juga mengajak untuk berakhlak mulia baik dalam perkataan, perbuatan, maupun bersikap. Namun, teman yang sholih harus mahram, bukan berteman dengan yang bukan mahram walaupun dianggap orang-orang sholih.


3. Menuntut Ilmu Islam


Jodoh merupakan hal yang berada diranah yang tidak kita kuasai, maksudnya adalah jodoh itu kapan datangnya, seperti apa orangnya, kapan kita menikah merupakan hal yang tidak diketahui manusia, hal tersebut merupakan rahasia Allah. Jadi, daripada memikirkan hal-hal yang tidak kita kuasai, harusnya kita memfokuskan diri pada hal-hal yang bisa kita kuasai yaitu mempersiapkan diri dengan menuntut ilmu islam terkait dengan pernikahan, agar ketika jodoh itu datang maka kita sudah mempersiapkannya. Banyak ilmu yang harus dipersiapkan sebelum menikah seperti ilmu tentang komunikasi suami istri, ilmu mengatur keuangan, ilmu tentang hubungan mertua dan menantu, ilmu tentang parenting, dan masih banyak lainnya. Jika kita sibuk untuk menuntut ilmu islam maka kita tidak akan disibukkan dengan kegalauan akan rasa cinta dan ketika jodoh datang kita siap menghadapi pernikahan bukan hanya dengan cinta namun juga dengan ilmu.


Nah, itulah beberapa tips agar kita bisa menempatkan rasa sesuai dengan porsinya masing-masing. Jadi, realisasikanlah cinta itu sesuai dengan aturan islam maka keberkahan dan ridho Allah yang akan kita dapatkan. (reper/az)

Posting Komentar untuk "Salahkah Bila Aku Jatuh Cinta?"