Berlatih Untuk Mengendalikan Diri di Bulan Suci Ramadhan
Oleh: Mochamad Efendi
Berpuasa, menahan lapar dan dahaga mungkin sudah biasa bagi seorang Muslim di bulan suci Ramadhan. Namun, ujian bagi orang berpuasa yang lebih besar adalah mengendalikan diri dari hawa nafsu, tetap bersabar meskipun banyak godaan yang membuat emosi sering menghasilkan lisan yang tidak patut diucapkan, serta perbuatan melebihi batas yang tidak seharusnya dilakukan. Ramadhan waktunya untuk berlatih dan menempa diri agar mampu mengendalikan emosi dan kemarahan yang sering membakar jiwa sehingga melakukan perbuatan yang sia-sia. Saat menyadari kesalahan, penyesalan mulai mengalir didalam dada segeralah beristighfar, berubah dan hijrah untuk meraih ampunan dan ridhoNya. Sungguh, indah saat kesadaran berlatih mengendalikan diri tidak hanya tumbuh pada rakyat biasa tapi juga pada diri para pemimpin dan pejabat agar terhindar dari kesombongan dan sikap rakus untuk menggenggam kekuasaan dan mencengkram nikmat dunia tanpa mau berbagi dengan sesama.
Saat nikmat dunia dijadikan tujuan, nafsu dijadikan kekang kendali dan tidak menyadari sudah terlalu jauh melangkahkan kaki ke dalam kesesatan. Selalu merasa benar dan mencari pembenaran karena membiarkan pemikiran manusia yang lemah dan banyak salah sebagai landasan berfikir. Membiarkan diri tanpa kendali mengikuti nafsu untuk terus berkuasa dan menggenggam nikmat dunia. Lupa diri sehingga semakin jauh terperosok ke lembah dosa karena kesombongan, merasa paling benar dengan mengingkari kebenaran hakiki, aturan Allah. Namun, kedzaliman dan kemungkaran pasti akan kalah dan berakhir dengan kehianaan dan sangat menyakitkan, jika tidak segera menyadari dan mengikuti seruan dari ajaran yang benar, Islam.
Perhatikan para penguasa dzalim yang angkuh dan merasa hebat yang ada diberbagai zaman, harusnya dijadikan pelajaran bagaimana kekuasaannya berakhir. Sebagai contoh Fir'aun, Namrud, dan semua penguasa dzalim berakhir dengan kehinaan karena kesombongan dan kerakusan mereka yang tidak mau mendengarkan kebenaran dari Al-Khalik, Pemilik hidup. Begitu pula mereka yang berpihak pada kemungkaran, hidupnya pasti tidak merasa nyaman, meskipun dilindungi oleh kekuasaan. Mereka juga pasti berakhir dengan kehinaan tidak hanya di dunia, tapi pasti juga nanti di akhirat. Mereka yang lupa diri dimanja oleh nikmat dunia, segeralah menyadari dengan mengamati apa yang ada disekitar kita.
Jangan sampai kehinaan menimpa diri karena kelalaian dan perbuatan yang sudah melampaui batas. Mungkin saat ini bisa selamat karena menjilat penguasa yang dzalim, tapi pada saatnya keadilan yang sebenarnya akan melaknat dan memberi adzab setimpal atas perbuatan yang tidak mau berpihak pada kebenaran hakiki. Adzab Allah sangat pedih menimpa siapa saja yang ingkar pada kebenaran dan menebar keburukan dengan lisan maupun tangannya. Membuat keonaran dan kegaduhan yang memancing emosi umat dengan menghina dan menistakan agama. Memilih berpihak pada penguasa dzalim yang pasti akan berakhir.
Berjuang di jalan yang benar harus terus dilakukan. Tidak perlu takut maupun ragu saat kita membela agama Allah, membela kebenaran hakiki meskipun harus berhadapan dengan kedzaliman penguasa. Kebenaran pasti akan menang, dan kita harus yakin karena Allah bersama orang-orang yang sabar memperjuangkan kebenaran. Tapi, ingatlah kebenaran dalam pandangan manusia semu dan menipu. Kita perlu standar kebenaran Wahyu dari Pencipta manusia, alam semesta dan hidup. Mengendalikan diri agar langkah kaki sesuai dengan petunjukNya, jalan lurus, jalan orang-orang yang telah diberi nikmat, bukan yang dimurkai Allah, bukan pula mereka yang tersesat.
Bulan Ramadhan bulan untuk berlatih mengendalikan diri agar setiap perbuatan kita sesuai dengan perintahNya dan menjahui semua laranganNya. Menempa diri dalam bulan Ramadhan dengan menjalankan puasa dengan sungguh-sungguh akan membuat jiwa bertaqwa. Ini penting kita lakukan dimanapun kita berada dan kapanpun agar bisa menjalani hidup sesuai dengan aturanNya. Berislam kaffah harus menjadi pilihan hidup bukan setengah-setengan, dan bukan pula moderasi yang terpapar benih-benih sekularisme.
Harusnya tidak hanya rakyat biasa tapi para pejabat yang menghasilkan kebijakan yang berdampak pada rakyat banyak harus berlatih untuk mengendalikan diri. Mereka harusnya mau menjalankan seluruh perintaNya dan menjahui seluruh larangaNya. Pemimpin bertaqwa akan akan menghasilkan kebijakan yang berpihak pada rakyat, bukan yang menyengsarakan rakyat. Rakyat dan pemimpin bertaqwa akan menghasilkan negara kuat, makmur, aman dan sejahtera, karena pintu rahmatNya terbuka lebar dari langit maupun bumi. Sebaliknya, adzab berupa bencana alam maupun pandemi akan segera berhenti dan enggan untuk menghampiri suatu negeri yang penduduknya dan pemimpinnya bertaqwa. Tidakkah ini kehidupan yang kita cita-citakan bersama, kehidupan Islami yang tidak hanya menjamin kebahagian di dunia tapi juga di akhirat nanti.
Bulan Ramdhan tahun ini jadikan momentum berlatih untuk mengendalikan diri agar kehidupan kita sesuai dengan aturan Allah setiap kaki melangkah. Mengendalikan nafsu agar tidak mengikuti tipu daya syaitan yang ingin menggelincirkan hati manusia. Perbanyak istighfar sehingga membuat hati lembut dan mudah menerima hidayahNya serta agar mampu menyadari semua kesalahan, kemudian bersama-sama berubah dan hijrah untuk berislam kaffah. Rakyat dan para pemimpin bersama menempa diri di bulan Ramadhan tahun ini agar pintu berkah dari langit dan bumi terbuka lebar. Rakyat hidup sejahtera adalah dambaan semua orang yang bisa terwujud saat Islam bisa diterapkan secara kaffah dalam sistem khilafah, bukan dalam demokrasi yang sudah mati. (reper/az)


Posting Komentar untuk "Berlatih Untuk Mengendalikan Diri di Bulan Suci Ramadhan"