Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Saat Secuil Nikmat Dicabut

Oleh: Mochamad Efendi


Hati mulai mengeluh dan kata aduh keluar dari mulut. Meskipun tersedia makanan lezat dan minuman segar di meja makan, semua kehilangan nikmatnya saat sedang sakit.  Ada daging, ayam, kue, dan juga buah-buah, dan tidak terlewatkan Es Kocok Durian dan Secangkir kopi hangat, namun semua kehilangan nikmatnya. Setiap kucoba mamasukkan secuil makanan ke mulut, perut terasa menolaknya. Minum juga terasa pahit. Perut mual dan terasa ingin memuntahkan seluruh isi perut. Tubuh pun  hilang keseimbangan, karena kepala terasa pusing tidak karuan saat kupaksa untuk berdiri. Meskipun, tempat tidur sudah tertata rapi, namun tidur terasa tidak nyaman rasanya. Bangun juga tidak kuat untuk berdiri lama dan nafas tidak teratur saat kupaksa untuk terus berdiri . Rumah megah tidak membuat diri merasakan nikmatnya hidup, saat secuil nikmat dicabut, hati mulai mengaluh dan keluar kata-kata aduh keluar dari mulut, menggantika kata syukur. 


Rasa syukur mulai luntur hanya karena secuil nikmat tercabut. Masih banyak nikmat lain yang lupa untuk disyukuri. Nikmat hidup masih melekat dalam diri ini, meskipun usia bertambah tua dan waktu terus bergulir untuk mendekati batas usia. Terucap kata sukur, "Alhamdulilah masih diberi kesempatan hidup bersama keluarga kecilku. Udara kehidupan masih bisa dihirup dengan gratis, dan bebas tanpa alat bantu untuk menghirupnya. Terlihat, keluargaku sehat dan bahagia, sungguh membuat hati ini bahagia.


Iman dan Islam masih tertanam didalam dada, sungguh ini adalah nikmat tertinggi dalam hidup. Meskipun dengan usaha keras, tubuh oleng, kepala pusing dan perut terasa mual dan sudah dua hari tidal terisi makanan, Alhamdulilah masih bisa berdiri untuk menjalankan kewajiban, sholat lima waktu. Sempat terhenti karena tubuh mau jatuh dan tidak bisa tahan ingin muntah. Tapi pada akhirnya, terselesaikan kewajiban sebagai seorang muslim, sungguh ini adalah nikmat luar biasa. Secara tidak kusadari, rasa syukur mulai menggantikan keluh kesah di dalam hati dan akhirnya terucaplah "Alhamdulilah".


Istri yang sabar menemani membawakan obat yang datang untuk menyembuhkan tubuh yang sedang sakit. Obat datang dari Allah melawati kesabaran istriku, sehingga perlahan terasa kondisi badan ini mulai bertambah baik. Alhamdulilah, perut mulai menerima makanan yang sedikit demi sedikit kupakasakan untuk mengisi perut yang sudah dua hari tidak disapa oleh makan lezat serta minuman segar yang tersedia di meja makan. Alhamdulilah, rasa pusing dan mual mulai menghilang berganti dengan rasa nyaman dan mulai merasakan nikmatnya makan dan segarnya minuman. Nikmatnya rezeki dari Allah mulai kurasakan saat kita merasa sehat. Sungguh luar biasa nikmat sehat telah membuka nikmat lainnya, sehingga semua terasa nikmat. 


Perlahan kurebahkan tumbuhkan pada tempat tidur yang terasa nyaman. Secuil nikmat sehat mulai aku rasakan, membuka nikmat yang lain yang sempat menghilang dalam hidup. Coba bayangkan saat semua nikmat dicabut dan semuanya tidak bisa kembali dalam hidup. Semua yang selama ini dibela mati-matian dan dibanggakan ternyata tidak ada artinya. Keluarga yang kita cintai juga tidak bisa dibawa mati. Semua harus kita tinggalkan dan tidak ada yang tersisa, dan segera kita dibawa ke tempat keabadiaan. Sebentar saja mereka menangisi kita, tapi perlan seiring berjalannya waktu, diri ini mulai dilupakan. Mereka disibukkan oleh kehidupan dunia yang sering melalaikan dan perlahan melupakan kita. Semuanya tentang kita akan menjadi cerita dan perlahan menghilang tidak berbekas saat berganti generasi.


Tidakkah kita ingat pada suatu hari yang pasti akan terjadi. Hanya jejak-jejak kebaikan yang tercipta oleh lisan, tangan dan kaki kita selama hidup di dunia yang bisa menolong kita, saat semua yang kita miliki di dunia harta, keluarga dan saudara tidak lagi berguna apa-apa.  Hanya amalan kebaikan yang sempat tercipta selama hidup yang dikaitkan dengan keyakinan yang benar, Islam bisa menolong kita. Anak-anak sholeh/sholehah, serta amalan jariyah yang masih bisa terus mengalir pada pada pundi-pundi pahala kita. Hari itu pasti akan terjadi dan kita semua akan mengalaminya. Marilah kita siapkan semua itu. Jangan dunia sebagai tujuan, tapi ujian yang harus dilewati agar kita layak untuk mendapatkan surgaNya, sebaik-baik tempat kembali. 


Mumpung, masih diberi kesempatan hidup, gunakan waktu kita untuk memperbanyak amalan untuk kehidupan akhirat nanti. Jangan kau ciptakan dosa pada sesama yang hanya membuat kita bangkrut saat menghadap dan kembali kepada Allah SWT. Merasa sudah berbuat banyak kebaikan dengan membawa amalan, sholat, puasa, zakat dan kebaikan lainnya, tapi lisan dan tangan kita suka berbuat dzalim dan keburukan pada orang lain, sehingga amalan yang kita banggakan habis karena ulah kita yang suka menyakiti orang lain. Semoga di bulan Syawal setelah berpuasa Ramadhan sebulan penuh, hati kita tergerak untuk mengulurkan dan menjabat tangan saudara kita sebagai tanda permohonan maaf atas segala salah dan khilaf. Kita buang rasa dendam dan kebencian pada sesama dan terus kita dekatkan diri ini pada Sang Pemilik hidup dan kita tingkatkan ketaqwaan kita untuk meraih kemuliaan dan menjadi sebaik-baik makhluk. Ingatlah sebelum seluruh nikmat hidup dicabut, marilah terus berlomba untuk berbuat banyak kebaikan dan menjadikan diri ini menjadi orang bertaqwa agar kita layak mendapatkan Rahmat-Nya. (reper/baim)

 

Posting Komentar untuk "Saat Secuil Nikmat Dicabut"