Cinta Jadi Benci Karena Dakwah? Ah Sudah Biasa…
Oleh: Eki Irmaya Sari
Suatu ketika rosulullah, pasca menerima wahyu surat as Syu’ara ayat 214 yang berbunyi “dan berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat”, beliau saw keluar dari rumahnya menuju Bukit Shafa guna menyeru kerabatnya agar berkumpul di sana.
Setelah mereka datang, Nabi lalu menyampaikan, "Wahai kerabatku (sambil menyebut semua nama ayah dari sukunya), datanglah ke sini." Mereka bertanya, "Ada apa?" Nabi menjawab, "Jika aku katakan kepadamu bahwa musuh ada di seberang bukit sana yang sedang mengintai untuk menyerbumu di waktu pagi atau petang, apakah kalian percaya?"
Seketika mereka menjawab, “tentu kami percaya, sebab engkau adalah orang yang tak pernah berdusta.” Nabi kita Muhammad saw. sejak sebelum menjadi rosulpun sudah dikenal sebagai al-amin (terpercaya), tak pernah berdusta sepanjang hidupnya.
Setelahnya Nabi melanjutkan, andai aku katakan, "Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan (nadzir) bagimu sebelum azab yang dahsyat menimpamu, apakah kalian akan percaya?”
Seketika mereka berlalu darinya. Sang paman, Abu Lahab, bahkan langsung berkata, "Hanya untuk ini sajakah engkau memanggil kami ke sini?" Tampak kebencian dan amarah di raut wajahnya terhadap sang rosul.
Abu Lahab, adalah paman rosul yang diketahui sangat menyayangi beliau dulu. Ia sangat berbahagia menyambut kelahiran Muhammad, hingga menggelar perjamuan makan yang mewah sebagai ungkapan rasa syukur menyambut kelahiran rosul. Abu Lahab menaruh harap sang keponakan akan menggantikan Abdullah, adiknya yang telah tiada.
Namun, rasa sayang itu tetiba berganti benci saat mengetahui Muhammad menyampaikan risalah yang bertentangan dengan keyakinan yang dianutnya. Amat besar kebenciannya hingga Allah mengabadikan nama Abu Lahab dalam satu surah tersendiri, yaitu surah al Lahab, khusus mengisahkan sepak terjangnya dalam menghalangi dakwah sang keponakan.
Dari Abu Lahab dan sanak keluarga rosul yang membenci beliau, kita belajar, bahwasanya keelokan akhlak rosul yang sebelumnya telah masyhur di kalangan bangsanya tak mampu menyelamatkan beliau dari kebencian manusia saat terjun ke medan dakwah. Kesempurnaan wajahnya yang sebelumnya membuat banyak manusia terpukau tak juga mampu menghalangi manusia dari mencaci makinya saat beliau menyerukan dakwahnya, bahkan bagusnya nasab beliau yang telah dikenal manusiapun tak mampu membuat mereka serta merta menerima dakwahnya.
Demikianlah jalan dakwah ini, sangat mungkin membuat manusia seluruhnya menjauh dari pengemban dakwah. Jalan dakwah ini sangat mungkin merubah kecintaan manusia menjadi kebencian yang mendalam kepada pengembannya, bahkan jalan dakwah ini bisa jadi akan meletakkan pelakunya dalam bahaya yang besar akibat kebencian manusia.
Namun dengan semua itu, haruskah para penyeru agama Allah merasa sedih? Haruskah mereka merasa insecure dengan penolakan manusia atas dakwah yang disampaikannya? Atau bahkan membuatnya balik kanan, menjauh dari medan dakwah?
Tentu tidak. Karena dakwah ini bukan untuk manusia melainkan untuk Allah. Yang mewajibkannya bukan manusia melainkan Robbnya manusia, pencipta manusia, pemilik manusia, penguasa manusia. Maka kewajibannyapun tak akan berhenti hanya karena kebencian manusia. Bagi hamba yang beriman, penolakan, kebencian, penentangan dan segala rintangan yang ada di hadapan jalan dakwah justru adalah dalil bagi mereka bahwa ia berada di jalan yang benar, sebab tidaklah benar jalan yang dilaluinya melainkan dia akan menghadapi kondisi yang sama dengan apa yang dilalui para Nabi dan Rosul, yaitu penolakan, kebencian, penentangan, serta sedikitnya dukungan.
Duhai pejuang kebenaran, tetaplah semangat menapaki jalan terjal bernama dakwah, lelah dan sakitmu takkan lama, sementara pahalamu telah nyata di sisi Robb alam semesta, insyaa Allah. []


Posting Komentar untuk "Cinta Jadi Benci Karena Dakwah? Ah Sudah Biasa…"