Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Remaja Muslim Sejati Berprestasi di Dunia dan Akhirat

Oleh: Mochamad Efendi


Prestasi adalah hasil dari sebuah usaha, semakin kuat dan serius dalam berusaha harapannya bisa berprestasi gemilang, dan sebaliknya  tidak ada prestasi tanpa ada usaha. Remaja harus semangat untuk menciptakan usaha-usaha yang positif agar bisa berprestasi, bukan remaja rebahan yang suka menyia-nyiakan waktu dengan permainan game online, atau chatingan dengan konten sampah yang tidak bermanfaat. Jika ingin berprestasi di sekolah, mendapatkan nilai terbaik menjadi kebanggan orang tua, tentunya harus semangat dalam menuntut ilmu dengan banyak membaca. Bahkan lebih dari itu bisa berkarya dan memenangkan satu perlombaan baik akademik maupun non akademik. Semua prestasi gemilang tidak bisa diraih hanya rebahan dan duduk-duduk saja tanpa ada usaha. Itulah gambaran prestasi di dunia yang bisa diraih oleh siapa saja, selama mereka mau sungguh-sungguh dalam berusaha. Namun, sebagai seorang remaja muslim sejati tidaklah cukup hanya menyandarkan pada usaha saja tapi juga do'a dan ridho Allah dalam berusaha, sehingga capaian prestasi tidak hanya dirasakan di dunia saja, tapi juga di akhirat nanti agar mendapatkan sebaik-baik tempat kembali, surgaNya.


Belajar sungguh-sungguh agar kita cerdas dan pintar, berlatih dengan serius agar kita canggih adalah keharusan untuk bisa berprestasi di sekolah, namun semua usaha yang kita lakukan harus dikaitkan dengan Islam. Artinya kita tahu dan sadar betul bahwa balajar, berlatih dan menuntut ilmu adalah petintah Allah SWT. Saat kita melakukan semua usaha karena dilandasi perintah Allah dan untuk mencari ridhoNya, maka apa yang kita lakukan mempunyai nilai ibadah sesuai dengan tujuan hidup kita. Jejak-jejak kebaikan yang bernilai ibadah inilah yang bisa mengantarkan kita untuk mencetak prestasi di akhirat nanti untuk mendapatkan surgaNya.


Tentunya kita masih ingat kisah Emmeril Kahn Mumtadz atau Eril (22), putra sulung Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dengan segudang prestasi. Namun, Semua prestasi yang diraih di dunia, hasilnya kita tinggalkan begitu saja dan tidak punya arti apa-apa saat kematian datang menjemput, jika semua yang diraih tidak dilandasi oleh keimanan yang benar. Semua hanya tinggal kenangan, dan perlahan menghilang tanpa bekas seiring berjalannya waktu. Hanya bekas- bekas kebaikan yang dikaitkan dengan Islam dan dilakukan ikhlas karena Allah menjadi prestasi untuk kehidupannya di akhirat nanti.


Gaes, Oleh karena itu, stop gaul bebas, liberalisme, sekularisme,  dan hiduplah mulia dengan Islam. Mengatur hidup ini dengan Islam agar setiap usaha yang kita lakukan tidak hanya mengantar pada prestasi dunia, tapi juga akhirat.  Untuk itu kita perlu mengaji untuk meningkatkan tsaqofah keisalaman kita agar bisa menerapkan Islam dalam kehidupan secara kaffah. Bagaimana bisa mengkaitkan setiap usaha dengan Islam jika kita tidak memahami Islam dengan benar. Usaha yang benar, lurus dan mulia tidak bisa didasarkan hanya pada pemikiran manusia yang tidak tersentuh Islam, tidak juga hanya mengandalkan hati dan perasaan, tapi harus mengaji agar kita memiliki pemahaman islami agar usaha yang kita lakukan selalu dikaitkan dengan Islam. Setidaknya seminggu sekali kita luangkan waktu untuk mempelajari Islam agar setiap usaha yang kita lakukan tidak hanya membawa pada prestasi dunia tapi juga akhirat.


Dalam sebuah kisah inspiratif dari seorang tua renta yang bernama Hasanudin yang dulu memiliki kedudukan tinggi sebagai direktur utama tempat hiburan malam dengan gaji seratus juta. Sungguh prestasi yang membanggakan bagi kebanyakan orang yang mengukur kesuksesan dengan ukuran materi. Meskipun hidup dalam kemewahan dia tidak merasa bahagia, resah, gelisah dan banyak masalah. Akhirnya, atas hidayah Allah SWT., dia memutuskan menjadi mualaf di usianya yang sudah tua dan memilih menjadi penjual Es Cingcau dengan penghasilan yang tidak seberapa. Mungkin, kebanyakan orang dalam dunia kapitalis menganggapnya bahwa dia mengambil keputusan gila dengan mengorbankan prestasi yang diraihnya. Namun, tidaklah demikian dalam pandangan Islam, di usianya yang sudah tua dia telah mencetak sebuah prestasi luar biasa, dunia dan akhirat. Di dunia dia merasakan kebahagiaan dan keberaniannya meninggalkan pekerjaan sebagai direktur utama tempat hiburan malam yang penuh dengan kemaksiatan adalah prestasi akhirat yang luar biasa.


Gaes, mungkin banyak orang menganggap prestasi dunia adalah saat kita sudah meraih jabatan tinggi, gaji dan penghasilan besar, memiliki harta melimpah dan investasi yang tidak habis sampai tujuh turunan. Dalam Islam, kesuksesan ukurannya bukanlah materi, tapi ketaqwaan kita yang terus meningkat, dan hidup sesuai dengan tujuan yakni beribadah kepada Allah SWT.  Prestasi dunia akhirat harus diwujudkan dengan usaha yang baik sesuai dengan apa yang diperintahkan dalam ajaran Islam yang lurus dan mulia sehingga menghasilkan prestasi yang diridhoi oleh Nya, yang tidak hanya dirasakan di dunia tapi juga di akhirat.


Kehidupan kekal dan untuk selama-lamamya setelah mati harus kita siapkan, bukan mati-matian mengejar nikmat dunia yang semu dan menipu.  Semua nikmat dunia segera akan kita tinggalkan saat batas usia kita sudah berakhir. Setelah itu kita tidak akan kembali ke dunia lagi. Keluarga tercinta kita tinggalkan, harta benda dan kekayaan yang kita banggakan tidak bisa dibawa mati. Prestasi segudang dan berbagai piagam penghargaan tinggal kenangan dan perlahan akan menghilang dalam ingatan setiap orang. Semua tidak berbekas, dan hanya usaha yang dilandasi keimanan dan dan ketaqwaan serta kebaikan yang dikaitkan dengan Islam akan menjadi penolong kita di akhirat nanti. Remaja muslim sejati akan bersemangat untuk berprestasi tidak hanya untuk dunia tapi yang lebih penting lagi untuk kehidupan di akhirat nanti. Mengaji tentang Islam, kemudian menciptakan usaha-usaha yang dilandasi dari pemahaman Islam yang benar akan menghasilkan prestasi dunia dan akhirat. []

 

Posting Komentar untuk "Remaja Muslim Sejati Berprestasi di Dunia dan Akhirat"