Berkorban Demi Berqurban
Oleh: Fatimah Al-Batul (Santri Ponpes Tahfidz Darul Bayan Sumedang)
Tak terasa, Eid Adha tahun ini akan tiba. Sudah banyak kambing, sapi dan kawan-kawan mejeng dipinggir jalan. Namun, di tengah-tengah keramaian serasa ada vibes aneh mengintai. Gimanna gak aneh? Detik-detik "moo" alias "sapi" mau dikurbankan, eh mulai juga menyebar virus ke hewan kurban, alias ada penyakit mulut dan kuku. Herman bin liyeurr!!
Yups, sebagai orang beriman kita kudu meyakini bahwa semua musibah datang atas izin Allah. Ya, meskipun dicurigai ada sedikit tipu muslihat sih. Tapi kita kembalikan pada Allah sebaik-baik pembalas makar (belajar dari sang Kholilullah & anaknya).
Saat dilanda musibah, kita kudu mencontoh sikap taat luar biaza dari seorang luar biaza yang diabadikan dalam Al-Qur'an. Nah, pada hari raya Eid Adha kali ini, kita kembali mengenang peristiwa Agung tentang 2 kekasih Allah ini. Betapa besar pengorbanan Nabi Ibrahim dalam menaati perintah Allah yang rela mengorbankan perasaannya meski diperintah menyembelih putra. Di tengah rasa bahagia karena lahirnya Ismail si buat hati yang sejak lama didambakannya. Nah, disitulah ujiannya. Betapa hebat beliau mendahulukan kecintaan yang tertinggi, yakni kecintaannya pada Allah plus mengakhirkan kecintaan yang rendah, yakni kecintaan pada anak, harta, dunia.
Dan syukurnya, Ismail pun sama takwanya, malahan menyambut perintah tersebut sekaligus meneguhkan jiwa ayahanda dengan mengatakan dalam surah As-Shafat: 02. Begitulah sekilas kisah Nabi Ibrahim & Ismail yang menjadi kiblat contoh kita dalam ritual ibadah haji dan kurban. Dan lebih-lebih teladan dalam berjuang dan berkorban. Apalagi demi mewujudkan ketaatan pada Allah dan syariat Allah secara kaffah. Akan tetapi, mirisnya kini nasib syariat Allah malah diabaikan dan dicampakkan (meuni sad).
Hukuman yang kita terima karena sudah mengabaikan aturan-aturan Allah, terjadilah kehidupan yang sempit seperti dalamm surat Thaha: 124, yaitu kehidupan yang sengasara, tertindas, miskin, terjajah sebagaimana yang terjadi di negeri-negeri muslim sekarang.
Tahh.. kondisi bobrok begini tak boleh dibiarkan! Kita sebagai muslim kudu segera bertindak dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah sebagai wujud ketaatan kepada Allah. Dan hal ini mengharuskan adanya kepemimpinan yang adil serta menerapkan sistem yang adil pula. Yang berfungsi sebagai tameng yang menjaga kaum muslim baik agama, darah, harta, maupun kehormatan mereka.
Spirit "Sami'na wa Atho'na" yang dilakukan Nabi Ibrahim & Ismail jelas membutuhkan pengorbanan!! Sekaligus jadi cermin bagi kita: "sudahkah kita berkorban demi menjalani kewajiban penerapan syariat Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan kita?
Jika bersegera dan ringan memenuhi perintah berkurban padahal menurut jumhur fukaha hukumnya sunnah. Berarti mestinya kita lebih bersegera & lebih merasa ringan untuk menerapkan syariat Islam sebagai wujud ketaatan pada Allah
Karena Rasul saw bersabda: "Tiada satu amalan pun disisi Allah yang lebih suci & lebih besar pahalanya di sisi Allah dibanding dengan suatu kebaikan yang dilakukan pada 10 hari menjelang Idul Adha (HR.Baihaqi). []


Posting Komentar untuk "Berkorban Demi Berqurban"