Dibalik Citayam Fashion Week
Oleh: Kartiara Rizkina M S. Sosio (Pengamat Sosial dan Aktivis Muslimah Aceh)
Seluruh beranda sosial media dipenuhi dengan video anak muda berjalan dengan outfit nyentrik bak sedang fashionshow. Yap kalian pasti tau CFW (Citayam Fashion Week) di SCBD (Sudirman Citayam Bodong Depok)
Sekilas fenomena CFW di SCBD memang tampak wajar. Sebahagian pihak beranggapan, dari pada mereka tawuran, mabuk-mabukan, atau narkoba. Toh mereka hanya sedang berkreasi dan berekspresi.
Namun sadarkah kita kalau ada sesuatu di balik fenomena Citayam Fashion Week. Sebenarnya fenomena CFW ini tentu tidak terjadi secara kebetulan. Senyatanya, kaum muda kita sudah lama menjadi tembakan pasar bagi pengusaha dan pembisnis melalui media sosial. Kalau sebelumnya ada trend GUCCI yang sempat viral, dimana anak muda berduyun-duyun mengikuti challenge memakai pakaian bermerek. Seperti kita ketahui, merek-merek tersebut menjadi salah satu merek kelas dunia yang memiliki harga yang fantastis.
Dalam dunia bisnis dan perdagangan, entah itu jasa ataupun barang, merek adalah elemen penting , bukan masalahnya bagusan yang mana, tetapi pada sebuah merek ada reputasi dan kepercayaan masyarakat.
Memanfaatkan pengguna media sosial yang latah dan memang doyan bereksperimen, sehingga produsen barang-barang mewah ini tidak perlu mengeluarkan biaya lagi untuk membuat iklan produk. Melalui challenge di media sosial, sudah jadi sarana promosi gratis yang menguntungkan bagi mereka. Ibarat kata yang promosiin orang lain yang ketiban rezeki mereka.
Hanya saja, pasar bagi barang bermerek hanya dapat terwujud oleh mereka yang berstatus sosial tinggi. Sementara pasar para pembisnis tidak cukup bagi orang kaya saja, sehingga mereka mencoba membuat trend baru yang mencakup semua kalangan.
Maka terbitlah Citayam Fashion Week atau yang biasa di singkat CFW. Mereka yang rata-rata berasal dari kelas menengah ke bawah, seakan punya ruang bebas untuk mengekspresikan segala bentuk pikiran dan gaya hidup yang menurut mereka sangat kekinian.
Ditambah lagi fenomena tersebut mendapatkan apresiasi dari beberapa pejabat negara, misal saja Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno. Ia memandang, ada potensi ekonomi besar di balik fenomena CWF di Taman Dukuh Atas jalan Sudirman ini. Setidaknya, kawasan SCBD dan ajang CWF ini bisa menjadi sumber konten menarik untuk mengangkat urban tourism alias pariwisata perkotaan.
Ia juga berharap, SCBD dan CFW bisa menjadi trendsetter bagi fesyen. Sekaligus menjadi influencer (pemengaruh) yang mendukung promosi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). (rri.co.id 18/7/2022)
Yah ujung-ujungnya duit juga, walaupun tidak secara langsung, tapi hakikatnya para pengusahalah yang di untungkan, baik pengusaha internasional maupun lokal, sementara produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) hanyalah kover.
Dalam sistem pemerintahan sekuler kapitalisme, Penguasa dan negara tidak punya fungsi mengurus dan menjaga umat sebagaimana diajarkan Islam. Mereka hanya hadir demi mempermudah jalan usaha para pemilik modal.
Apalagi paradigma sekuler kapitalisme, potensi pemuda pun dipandang tidak lebih sebatas aset ekonomi saja. Besarnya jumlah pemuda dan bonus demografi yang luar biasa hanya dihitung sebagai potensi andalan untuk menggerakan kembali ekonomi bangsa yang lesu akibat wabah dan krisis yang melanda dunia.
Mereka hanya diarahkan menjadi sekrup mesin pemutar roda industri kapitalis, sekaligus menjadi objek pasar bagi produk yang dihasilkan. Fesyen, barang-barang konsumsi, produk hiburan dan permainan, semua dipropagandakan sebagai alat meraih kebahagiaan dan prestasi.
Sementara media sosial begitu sarat dengan propaganda paham sekuler liberal yang melahirkan gaya hidup serba permisif, hedonis, konsumtif, dan serba instan.
Hal ini sejalan dengan pengarusan produk pemikiran yang mengubah mindset kaum muda menjadi kian cinta dunia. Hingga pada saat yang sama hilanglah kecintaan akan agama dan perjuangan membangkitkan umatnya. Maka perlu bagi kita untuk menyelamatkan anak muda yang menjadi penerus bangsa ini, dengan apa? Selamatkan mereka dengan Islam. Islam yang tidak hanya sekedar dibaca dan diketahui tapi juga adanya penerapan sistem Islam secara kaffah didalam kehidupan kita. Wallahua'lambissowwab. []


Posting Komentar untuk "Dibalik Citayam Fashion Week"