Bukan Sumpah Biasa
Oleh: Ernadaa Sholihah
Bulan Oktober identik dengan bulannya pemuda, di mana setiap tanggal 28 Oktober diperingati sebagai hari sumpah pemuda.
Kata “sumpah” adalah kata yang menarik untuk dikupas. Karena dengan memahami hakikat sumpah ini, maka seseorang akan paham tentang konsekuensi dari sumpahnya dan akan mengantarkan pada kesadaran penuh akan konsekuensi dari sumpah yang diucapkan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sum·pah : pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhannya dan sebagainya): perkataannya itu dikuatkan dengan --; 2 pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar; 3 janji atau ikrar yang teguh (akan menunaikan sesuatu).
Dari pengertian di atas, sumpah ini adalah ikrar yang ditujukan kepada Allah dengan bertekad kuat melaksanakan isi sumpah sebagai konsekuensinya.
Sesungguhnya, kita semua sudah mengucapkan sumpah sebelum lahir ke dunia, sumpah (dalam artian berjanji dan mengakui serta bersaksi bahwa hanya Allah Ta’ala sebagai penciptanya yang wajib disembah dan ditaati aturan-Nya).
Allah Ta’ala dalam firman-Nya (yang artinya): “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS al-A’raaf [7]: 172).
Nah, karena itu objek sumpah tidak boleh melenceng dari aqidah kita sebagai seorang muslim . Apalagi jika isi sumpahnya justru menyeru pada fanatisme kedaerahan, kesukuan ataupun nation-state, karena paham ini bertentangan dengan Islam.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita, “Bukan golongan kami siapa saja yang mengajak pada ashabiyah (fanatisme golongan, kaum, bangsa). Bukan pula dari golongan kami orang yang berperang karena ashabiyah, dan tidak juga termasuk golongan kami orang yang mati karena ashabiyah.” (HR Abu Dawud).
Agama Islam yang mulia ini mempunyai perhatian yang sangat besar mengenai pertumbuhan dan perkembangan para pemuda, karena merekalah yang akan memegang estafet kepemimpinan ummat di masa yang akan datang.
Karena itu, tidak diragukan lagi bahwa peran pemuda sangat penting dalam mengobarkan semangat kebangkitan dan perubahan. Fase pemuda adalah fasa kekuatan di antara dua kelemahan. Dua kelemahan yang dimaksud adalah kelemahan pada masa anak-anak dan kelemahan pada usia senja.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
"Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa." (QS. Ar-Rum 30: 54)
Karena itu pula, para sahabat Rasulullah Saw, yang masih muda memiliki andil dan peran yang sangat besar dalam menyebarkan agama ini dengan dakwah dan berjihad di jalan Allah.
Potensi yang dimiliki oleh pemudah sudah seharusnya diarahkan demi kebangkitan Islam yang mulia. Mengikrar sumpat menjadi anshorullah, penolong Agama Allah. Karena konsekuensi dan dorongan keimanan. Ajang pembuktian dalam kata dan perbuatan yang menuntut pengorbanan jiwa dan raga hingga tetesan darah dan nyawa.
Sumpah Pemuda sejatinya mengingatkan kita kembali akan sumpah ikrar kita sebagai seorang Muslim kepada Allah ta’ala. Saat kita pertama kali mengikrarkan syahadah dengan penuh kesadaran. Bersumpah bahwa tidak ada ilah yang pantas di sembah kecuali Allah dan Nabi Muhammad Saw, adalah utusan Allah.
Sumpah pemuda seharusnya menjunjung tinggi akidah Islam dan memperjuangkan sebagai konsekuensinya. Bersatu tanpa sekat nasionalisme, menyeru seluruh muslim bersumpah :
"Kami pemuda pemudi Islam, mengaku berakidah satu, akidah Islam"
"Kami pemuda pemudi Islam, mengaku berhukum satu, hukum syariah Islam"
"Kami pemuda pemudi Islam, mengaku bersatu, berjuang demi tegaknya sistem Islam"
Sejarah membuktikan para pemuda muslim 14 abad yang lalu melaksanakan sumpah hingga menjemput syahidnya.
Adalah Zubair bin Awwam. Sosok pemuda yang menjadi teman diskusi Rasulullah, anggota pasukan berkuda, tentara yang pemberani, pemimpin dakwah Islam di zamannya dalam usia 15 tahun.
Sementara Thalhah bin Ubaidillah, seorang pembesar utama barisan Islam di Makkah, singa podium yang handal, pelindung Nabi saat perang Uhud berkecamuk dengan tujuh puluh luka tusuk tombak, donator utama fii sabilillah, mendapat julukan dari Rasulullah: Thalhah si pemurah, Thalhah si Dermawan di usianya yang masih sangat muda.
Juga Sa’ad bin Abi Wawash, seorang ksatria berkuda Muslimin paling berani di saat usianya baru menginjak 17 tahun. Ia dikenal sebagai pemanah terbaik, sahabat utama yang pertama kali mengalirkan darahnya untuk Islam, lelaki yang disebut Rasulullah sebagai penduduk surga.
Zaid bin Tsabit, mendaftar jihad fii sabilillah sejak usia 13 tahun, pemuda jenius mahir baca-tulis. Hingga Rasulullah bersabda memberi perintah: “Wahai Zaid, tulislah….”. Ia mendapat tugas maha berat, menghimpun wahyu, di usia 21 tahun.
Juga Usamah bin Zaid, namanya terkenal harum sejak usia 12 tahun, mukmin tangguh dan muslim yang kuat, Rasulullah menunjuknya sebagai panglima perang di usianya yang ke-20 dan memimpin armada perang menggempur negara adikuasa Romawi di perbatasan Syiria dengan kemenangan gemilang.
Demikianlah profil pemuda muslim yang mendapatkan rahmat dan petunjuk dari Allah. Pemuda yang menjadikan iman dalam dada selalu membara.
Karena itu, kita membutuhkan sumpah yang bukan sekadar untuk menyatukan satu negeri saja. Tapi sebuah ikrar yang mampu menyatukan seluruh kaum muslim di seluruh dunia. Ikatan yang mampu membawa kita kepada kebangkitan, mengokohkan untuk melawan kaum kuffar. Ikatan yang memiliki ruh yang tak pernah padam, itulah Ideologi Islam, Ikrar Akidah Islam. Karena sumpah kita "Bukan Sumpah Biasa". Saatnya umat bersatu dalam satu ikatan akidah demi kejayaan Islam dan Rahmat bagi seluruh alam. []


Posting Komentar untuk "Bukan Sumpah Biasa"