Berkah Ilmu dengan Menghormati Guru
Oleh: Al Azizy Revolusi
(Editor dan Kontributor Media)
Gaes, sebagai seorang penuntut ilmu kita wajib untuk mengikuti rambu-rambu alias adab-adab dalam menuntut ilmu salah satunya adab murid terhadap guru agar ilmu yang kita dapatkan menjadi berkah dan berfaedah.
DR. Umar As-Sufyani Hafidzohulloh mengatakan, “Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya atau tidak dapat menyebarkan ilmunya.”
Para ulama mazhab, Imam Ahmad, Imam Syafi’i, dan lainnya adalah murid-murid yang sangat menghormati dan memuliakan para gurunya. Jangankan berbuat gaduh saat belajar, Imam Syafi’i merasa segan meski hanya untuk minum air saat sedang belajar. Sedangkan Imam Malik saat hendak membuka lembaran bukunya, maka Ia melakukannya dengan sangat perlahan agar tidak berisik.
Pantas saja mereka menjadi ‘orang besar”, itu karna memuliakan guru. Maka ilmu mereka pun menjadi berkah dan nama mereka sampai saat ini dikenal dan ilmunya dijadikan rujukan dalam beramal. Mau seperti mereka?? Let’s check and do it.
• Pertama, adab duduk adalah dengan tidak membentangkan kaki dan tidak bersandar. Ini kl duduknya bukan di kursi ya guys. Ibnul Jamaah mengatakan, “Seorang penuntut ilmu harus duduk rapi, tenang, tawadhu, mata tertuju kepada guru, tidak membentangkan kaki, tidak bersandar, tidak pula bersandar dengan tangannya, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi dan juga tidak membelakangi guru.”
• Kedua, adab berbicara. Imam Abu Hanifah pun jika berada di depan Imam Malik, Ia layaknya seorang anak di hadapan ayahnya. Para sahabat adalah murid bagi Rasulullah saw dan mereka tidak pernah beradab buruk, tidak pernah memotong ucapan atau mengeraskan suara di hadapan Rasulullah saw. Bahkan orang sekaliber Umar Bin Khattab yang terkenal keras wataknya tidak pernah menarik suaranya di hadapan Rosul sampai beliau kesulitan mendengar suara Umar saat berbicara.
“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah saw duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satupun dari kami yang berbicara.” (HR. Bukhari)
• Ketiga, Adab bertanya. Bisa jadi apa yang diajarkan oleh guru ada yang belum kita pahami sehingga kita bertanya kepadanya. Allah swt berfirman, Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An Nahl: 43)
Dengan bertanya maka akan terobati kebodohan, hilang kebingungan, serta mendapat ilmu. Para ulama telah menjelaskan tentang adab bertanya ini. Mereka mengajarkan bahwa pertanyaan harus disampaikan dengan tenang, penuh kelembutan, jelas, singkat dan padat, juga tidak menanyakan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya.
• Keempat, Adab mendengarkan pelajaran. Diriwayatkan Yahya bin Yahya Al Laitsi tak beranjak dari tempat duduknya saat para kawannya keluar melihat rombongan gajah yang lewat di tengah pelajaran, Yahya mengetahui tujuannya duduk di sebuah majelis adalah mendengarkan apa yang dibicarakan gurunya bukan yang lain. Maa sya Allah. How about us? Hhmm.. kayanya ada temen kita ngobrol, kita malah ikutan asik ngobrol padahal guru sedang menjelaskan pelajaran. Mulai sekarang ubah kebiasaan ini yah.
• Kelima, Mendoakan guru-guru. Banyak dari kalangan salaf berkata, “Tidaklah aku mengerjakan sholat kecuali aku pasti mendoakan kedua orang tuaku dan guru guruku semuanya.”
• Keenam, guru juga manusia. Meski tugasnya mulia, bisa jadi ada kekurangan atau kesalahan yang guru lakukan namun tentu nggak tiba-tiba kita jadi berlaku tidak hormat pada mereka apalagi mencari-cari kesalahan guru. Para ulama salaf senantiasa berdoa, “Ya Allah tutupilah aib guruku dariku, dan janganlah kau hilangkan keberkahan ilmunya dariku.”
Adab dalam menegur mereka pun perlu diperhatikan mulai dari cara yang sopan dan lembut saat menegur dan tidak menegurnya di depan orang banyak.
The last but not least, meneladani guru. Merupakan suatu keharusan seorang penuntut ilmu mengambil ilmu serta akhlak yang baik dari gurunya. Ibnu Utsaimin berkata, “Jika gurumu itu sangat baik akhlaknya, jadikanlah dia qudwah atau contoh untukmu dalam berakhlak. Namun bila keadaan malah sebaliknya, maka jangan jadikan akhlak buruknya sebagai contoh untukmu, karena seorang guru dijadikan contoh dalam akhlak yang baik, bukan akhlak buruknya, karena tujuan seorang penuntut ilmu duduk di majelis seorang guru adalah mengambil ilmunya kemudian akhlaknya.”
Oke gaes, semoga kita menjadi orang yang bisa menghormati para guru agar ilmu yang kita dapatkan selama ini berkah dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Aamiin. []


Posting Komentar untuk "Berkah Ilmu dengan Menghormati Guru"