Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Child Grooming & Fungsi Ayah Bagi Anak Perempuan


 



Oleh : Fitri Sumantri (Aktivis Dakwah & Blogger)


“Broken Strings kepingan Masa Muda yang Patah” sebuah buku yang di tulis oleh Aurelie Moeremans yang menceritakan kisah tentang pengalaman hidupnya di masa remaja. Memoar yang diterbitkan secara gratis pada 12 Oktober 2025 itu baru viral di awal tahun 2026 karena isunya yang menyentuh dan diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh Aurelie sendiri. 

Melalui buku “Broken Strings” artis kelahiran Belgia yang dikenal lewat berbagai iklan, film dan sinetron ini membagikan cerita pahit tentang dirinya yang pernah menjadi korban Grooming, manipulasi, dan kontrol sejak usia belia, serta perjalanan panjangnya menuju pemulihan.


“Chil Grooming” adalah istilah dalam bahasa Inggris yang merujuk pada proses manipulasi psikologis yang dilakukan oleh pridator anak untuk membangun hubungan, kepercayaan dan kendali dengan seorang anak atau remaja, dengan tujuan akhir melakukan eksploitasi atau pelecehan seksual. Proses ini seringkali dilakukan secara bertahap dan manipulatif, membuatnya sulit dikenali oleh korban maupun orang tua. Beberapa taktik umum digunakan ialah dengan membangun kepercayaan, memberi hadia, mengisolasi korban, menormalisasi pelaku tidak pantas, mengancam atau memeras. 


Dalam buku Broken Strings, Aurelie menceritakan pertemuannya dengan seorang laki-laki dewasa bernama Bobby, dimana si bobby ini yang menjadi pusat perhatian, dengan pembawaan yang menarik bak cowok populer yang ada di sekolah-sekolah pada umumnya, membuat si Aurelie yang kala itu masih  berusia 15 tahun merasa tertarik, apa lagi si bobby ini seorang laki-laki dewasa, menawan memberikan perhatian yang membuat ia merasa cukup sebagai perempuan remaja kala itu, yang mana perhatian itu tidak di dapatnya secara intens dengan ayahnya, sebab ayahnya yang berada di belgia. 


Gadis kecil yang baru bertumbuh ini terjebak dengan rasa nyaman dan perhatian-perhatian yang diberikan oleh bobby, sehingga ia menaruh hati serta mengagumi pria dewasa tersebut. 

Dari poin itu kita menjadi paham bahwa ternyata hilang atau kurangnya peran ayah dalam tumbuh kembang anak perempuan dapat meningkatkan risiko terjadinya Child Grooming. Ayah memiliki peran krusial sebagai pelindung dan pemenuh kebutuhan emosional, agar anak tidak mencari kasih sayang diluar rumah secara tidak sehat. Sebab banyak kasus yang terjadi diluar sana dimana anak perempuan justru merasa aman bersama laki-laki yang baru dikenalnya di banding dengan sosok ayah yang ia kenali dari sejak ia lahir. Hal itu terjadi tentunya bukan tanpa sebab, melainkan  keberadaan ayah seringkali  hanya sebatas pemenuhi kebutuhan panggannya, namun hampa secara emosional. 


Dalam islam peran ayah sangat vital sebagai qawwam (pemimpin keluarga) yang bertanggung jawab membimbing spiritual, memberikan nafkah, melindungi, dan menjadi teladan utama bagi istri dan anak-anak. Memastikan keluarga berjalan sesuai syariat dengan menanamkan nilai tauhid, akhlak mulia, serta kasih sayang untuk mencapai kesejahteraan dunia akhirat, bukan hanya sekedar penyedia materi.

Hilangnya peran ayah bagi anak perempuan akan menyebabkan ketidakstabilan emosional,  ketika seorang anak perempuan kehilangan figur ayah dalam kehidupannya, ia seringkali mengalami ketidakstabilan emosional. Ayah memiliki peran penting dalam memberikan dukungan emosional, keamanan, dan rasa percaya diri pada anak perempuan. Kehilangan sosok ayah dapat menyebabkan rasa kekosongan emosional yang sulit diisi, serta meningkatkan risiko mengalami depresi, kecemasan atau masalah emosional lainnya. 


Dan peran ayah juga berdampak pada kurangnya model peran maskulin dalam kehidupan anak perempuan, yang mana ayah menjadi model peran yang kuat dan stabil bagi anak perempuan, membantu mereka memahami bagaimana hubungan antara pria dan wanita seharusnya, serta memperkenalkan konsep-konsep seperti tanggung jawab, kemandirian dan integritas. 


Hilangnya peran ayah terhadap anak perempuan juga menganggu perkembangan identitas, sebab anak perempuan yang tumbuh tanpa ayah cenderung mengalami kesulitan dalam membangun identitas diri. Ayah memiliki peran penting untuk  membantu anak perempuannya menemukan siapa diri mereka dan menetapkan batasan-batasan yang sehat. Namun kehilangan sosok ayah menyebabkan anak perempuan kehilangan identitas, perasaan tidak berharga, dan kesulitan dalam mengembangkan rasa harga diri yang positif. Serta risiko terkena prilaku yang merugikan, yang mana hilangnya sosok ayah membuat mereka mungkin mecari pengakuan dan perhatian dari pria lain diluar sana. Yang dapat mengarah pada hubungan tidak sehat atau terlibat dalam prilaku berisiko seperti kekerasan dalam pacaran, pengunaan obat-obatan terlarang, seksual yang tidak aman, bahkan grooming itu sendiri.


Dampak lainnya juga mengakibatkan keterbatasan keterampilan sosial dan hubungan, yang mana ayah memiliki peran penting dalam membantu anak perempuan memahami dinamika hubungan interpersonal, termasuk bagaimana berkomunikasi dengan pria, menetapkan batasan-batasan yang sehat, dan mengembangkan keterampilan sosial yang kuat. Tanpa sosok ayah anak perempuan akan mengalami kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat dan mempertahankan batasan-batasan yang tepat dalam interaksi dengan pria. 

Serta berisiko kehilangan pandangan tentang pernikahan dan keluarga yang sehat, dimana mereka tidak merasa yakin tentangn hubungan antara pria dan wanita. Bahkan memiliki keraguan tentang kemampuan untuk membina hubungan yang stabil dan bahagia dimasa depan. Anak perempuan yang tumbuh tanpa ayah cenderung berisiko lebih tinggi terkena penyalahgunaan dan kekerasan, baik secara fisik maupun emosional. 


Dari kasus yang di alami oleh Aurelie Moeremans itu kita bisa mengambil pelajaran berharga, tidak hanya perihal cara menjaga diri sebagai perempuan remaja yang perlu berhati-hati terhadap lingkungan. Namun juga kesadaran seorang ayah akan perannya sebagai Qawwam dalam rumah tangga. []

Posting Komentar untuk "Child Grooming & Fungsi Ayah Bagi Anak Perempuan"