Menjaga Marwah dengan Amanah, bukan Mobil Mewah
Oleh: Mochamad Efendi
Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas'ud, sempat menuai polemik dengan menganggarkan Rp8,5 miliar untuk mobil dinas mewah jenis Range Rover LWB Autobiography, yang diklaim untuk "menjaga marwah" Kaltim sebagai lokasi IKN. Banyak yang mengkritisi keputusan itu karena masih banyak jalan yang perlu diperbaiki dan fasilitas umum yang dibutuhkan rakyat.
Padahal kehormatan seorang pemimpin akan terjaga jika dia amanah dalam menjalankan tugasnya karena dorong taqwa. Dalam pandangan Islam, pejabat atau pemimpin yang mulia bukanlah mereka yang memiliki kekuasaan mutlak atau harta melimpah, melainkan mereka yang memandang jabatan sebagai amanah dari Allah SWT yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat.
Kemuliaan sejati manusia di sisi Allah SWT diukur berdasarkan tingkat ketaqwaan, bukan dari harta, jabatan, nasab, atau rupa fisik. Ketaqwaan diwujudkan dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Orang yang paling bertakwa adalah yang paling mulia, sesuai dengan QS. Al-Hujurat ayat 13.
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa."
Pejabat yang mulia dalam Islam memiliki beberapa karakteristik: Pertama, dia Adil dan Amanah. Pemimpin yang Melayani, bukan minta dilayani. Rasulullah SAW bersabda bahwa pemimpin mulia akan berada di atas mimbar-mimbar cahaya di sisi kanan Allah SWT pada hari kiamat. Keadilan ini mencakup hukum, perlakuan kepada bawahan, dan pemenuhan hak-hak rakyat. Mereka adalah pelayan masyarakat, bukan penguasa yang minta dilayani.
Kedua, mereka takut kepada Allah, Pejabat yang bertakwa akan takut untuk berbuat zalim, korupsi, atau menyalahgunakan kekuasaan karena sadar akan pengawasan Allah. Meneladani sifat Nabi Muhammad SAW, pemimpin harus yaitu terpercaya, jujur dalam memimpin untuk menciptakan lingkungan yang aman dan membangun kepercayaan publik. Pejabat mulia berani menegakkan kebenaran tanpa pandang bulu, sebagaimana diperintahkan dalam QS. Shad: 22. Dalam kisah Nabi Yusuf AS, kepemimpinan membutuhkan perpaduan antara kompetensi dan integritas.
Ketiga, pemimpin yang baik memiliki sifat kasih sayang, tidak sombong, dan tidak suka menindas rakyatnya. Jadi bukan harta yang membuat seorang pemimpin mulia. Bahkan harta bisa menjadi penyebab pemimpin terhina. Kesombongan adalah awal dari kehancuran seorang pemimpin. Ingatlah kisah Fir'aun yang diabadikan dalam al-Quran agar bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua, terutama pemimpin yang dzalim. Kekuasaan dan kekayaan sering membuat seseorang lupa diri yang membuatnya jatuh dalam kehinaan dan mendapatkan siksa di dunia dan akhirat yang menyakitkan.
Sosok pemimpin yang bisa dijadikan teladan adalah Khalifah Umar bin Khattab. Sifat Kepemimpinannya menunjukkan kepedulian sosial, tanggung jawab, dan kesederhanaan. Dia sangat dihormati dan dicintai rakyat meskipun hidupnya sederhana, bahkan rela memikul gandum sendiri untuk rakyatnya yang kelaparan sebagai bentuk rasa tanggung jawabnya sebagai pemimpin, bukan untuk pencitraan.
Umar sering melakukan patroli malam sebagai bentuk kepedulian untuk memastikan bahwa rakyatnya baik-baik saja. Umar menemukan seorang ibu yang memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya yang kelaparan. Dia rela untuk memikul sekarung gandum sendiri dari Baitul Mal (kas negara), dan memasak untuk mereka yang kelaparan. Kisah ini sering dirujuk dalam literatur sejarah Islam untuk menggambarkan pemimpin yang merakyat dan takut kepada Allah jika rakyatnya ada yang kelaparan. Jadi marwah seorang pemimpin bukan ditentukan kemewahan dan besarnya kekuasaan, tapi sikap amanah dalam memimpin dan besarnya kepedulian pemimpin pada rakyatnya. []


Posting Komentar untuk "Menjaga Marwah dengan Amanah, bukan Mobil Mewah"